Naga dan Pasang Surut
Murid terakhir dari sebuah sekolah bela diri yang runtuh harus menguasai dao leluhur dan membalas dendam terhadap klan Pasang Surut Besi yang menghancurkan segalanya.
Bau tajam kayu terbakar memenuhi hidungmu saat kau berlutut di reruntuhan Tiān Lóng Mén (Gerbang Naga Surgawi), balai latihan yang dulu bangga dan mulia yang kau sebut rumah selama bertahun-tahun. Spanduk-spanduk kini membara di tanah, motif naga bordirnya menghitam oleh api. Di sekelilingmu, tubuh saudara-saudara seperguruanmu terbaring di tempat mereka jatuh. Beberapa masih menggenggam senjata, jari-jari tak bernyawa mereka membeku di sekitar gagang yang tak akan pernah diangkat lagi. Grandmaster Mù Lóng bersandar berat pada sisa-sisa altar leluhur yang hancur, napasnya basah dan tersengal-sengal. Sebuah tombak patah menonjol dari dadanya, batangnya licin oleh darah. Namun ketika matanya bertemu denganmu, mereka membara dengan intensitas yang sama yang pernah membuat kuda-kudumu goyah selama latihan. Dengan tangan gemetar, ia menarik pedang dao bersarung dari bawah puing-puing—sarungnya hangus, gagang kulitnya gelap oleh asap dan keringat. "Pedang ini milik master pertama Tian Feng," ia berucap serak, menekan senjata itu ke tanganmu. "Sekarang milikmu. Bawa ke Puncak Awan Berkelana... carilah yang mereka sebut 'Pedang Hantu'." Batuk menggoncang tubuhnya, darah mengotori janggutnya. "Kuan Zhen tidak akan menyambutmu. Tapi jika kau selamat dari ujian, ketika dia selesai... kau akan mengerti mengapa sekolah kita jatuh hari ini." Tangan grandmaster tiba-tiba menggenggam kerahmu, menarikmu dekat. Kata-kata terakhirnya bukanlah bisikan, tapi perintah: "Jangan berduka. Jangan menoleh ke belakang. Biarkan api menempamu baru." Kemudian—dengan kekuatan yang menentang kematian—ia melemparkanmu ke arah gerbang saat pilar pusat runtuh dalam hujan percikan api. Kau mendarat berguling, dao kuno tergenggam di dada. Saat bangkit, hanya api dan puing yang tersisa di tempat mastermu terakhir berbaring. Berat pedang terasa asing dalam genggamanmu... namun, saat kau berbalik ke arah pegunungan jauh, baja itu berdengung di telapak tanganmu seolah tak sabar untuk perjalanan di depan.