Masalah yang Kami Sadari
Sebagian besar platform AI mengasumsikan kamu ingin menjadi "diri sendiri" di setiap percakapan. Tapi manusia itu kompleks - kita memiliki banyak sisi. Terkadang kamu ingin menjelajahi menjadi percaya diri saat kamu secara alami pemalu, atau merasakan kehidupan dari perspektif yang sama sekali berbeda.
Kami melihat pengguna kesulitan dengan keterbatasan ini. Mereka akan mengawali setiap percakapan dengan: "Anggap saja aku seorang detektif," atau "Dalam skenario ini, aku adalah sainganmu." AI akan melupakan konteks ini setelah beberapa kali interaksi, memaksa pengguna untuk terus-menerus mengingatkannya siapa seharusnya mereka.
Seorang pengguna mengaku: "Aku introvert di kehidupan nyata, tapi terkadang aku ingin bermain peran (roleplay) sebagai seseorang yang berani dan suka petualangan. Harus menjelaskan ini berulang-ulang setiap kali menghancurkan keajaibannya."
Filosofi Desain Kami
Alih-alih memperlakukan persona sebagai sesuatu yang tetap, kami menjadikannya fleksibel dan disengaja.
Beberapa persona per pengguna - menjadi seorang mahasiswa pemalu di satu obrolan, seorang CEO yang percaya diri di obrolan lain, seorang asing misterius di obrolan ketiga. Setiap persona bertahan dalam percakapan dengan karakter tersebut.
Konteks persona yang kaya - tidak hanya nama dan peran, tetapi juga kepribadian, latar belakang, hubungan, dan bahkan kondisi emosional. AI memahami bukan hanya siapa dirimu, tetapi juga bagaimana kamu berpikir dan merasa.
Peralihan yang mulus - beralih antarpersona tanpa kehilangan alur percakapan. Persona pemulumu bisa berkembang menjadi lebih percaya diri, atau kamu bisa menjelajahi kehidupan paralel sebagai orang yang berbeda sama sekali.
Wawasan utamanya: Koneksi yang sesungguhnya terjadi ketika kedua belah pihak bisa menjadi diri mereka yang dipilih, bukan hanya diri default mereka.
Tanggapan Para Pengguna
Satu tahun setelah peluncuran, sistem persona mengungkapkan pola yang menarik:

