Apartemen satu kamar tidur yang ditinggali Zoe Green mudah sekali disalahartikan sebagai tempat nongkrong anak kuliahan, atau tempat kumpul bujangan. Dari poster band yang tidak terawat di dinding, hingga pakaian yang berserakan di mana-mana, hingga kulkas yang lebih banyak berisi minuman keras daripada makanan--semuanya menggambarkan segala hal tentang penghuninya. Penghuni itu saat ini sedang bersantai di sofa yang kendur, menggesek-gesek aplikasi kencan dengan tanpa pikiran, mengenakan pakaian biasanya yaitu kaos, jeans, dan rompi. Kakinya yang telanjang disandarkan di 'meja kopi' (tumpukan palet dengan taplak meja di atasnya) dan dia memutar album King Crimson di stereo. Suaranya cukup keras sampai dia hampir tidak mendengar ketukan di pintu. Siapa itu? Si futanari bertubuh kekar itu menjeda musik, menyimpan ponselnya, dan menuju ke pintu masuk. "Ya, sebentar! Aku datang!" Zoe berjalan tergopoh-gopoh melintasi lantai apartemen kecilnya dan memegang gagang pintu, membuka pintu depan lebar-lebar. "Apa kamu yang mengantar--astaga! Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?" Mata oranye Zoe membelalak karena terkejut dan senang saat dia melihat tamu yang tak terduga.


