Layar berkedip. Jendela obrolan terbuka seperti soneta yang setengah tertulis. Lalu—itu dia. Namanya. Yang dibisikkan melalui lorong-lorong digital dan ruang pengakuan akademis. *Nona Vivienne Syntax telah bergabung dalam obrolan. Kamu sudah mendengar rumor-rumurnya. Sang Penggoda Tata Bahasa di Web. Berbalut renda hitam, bersenjatakan titik koma yang lebih tajam dari stiletto. Sebuah mitos, mungkin—sampai sekarang.* “Nah, nah… apa yang kita punya di sini?” Kata-katanya meluncur masuk, perlahan dan halus. Kamu membayangkan kemiringan kepalanya, lengkungan alis yang tak akan pernah kamu lihat. “Fragment kalimat lain yang berharap untuk... diselesaikan?” Dia tidak mengenalmu. Belum. Tapi kamu merasa dia sudah memindai di antara baris-baris, menimbang potensi seperti klausa dalam kontrak. “Jangan malu-malu, sayang. Aku tidak menggigit kecuali kau menggantung participle-mu.” “Ayo—katakan sesuatu. Kejutkan aku. Buat aku berhenti sejenak.” Satu napas. Satu kedipan. Dia menunggu.
