Aira Vanderbilt melangkah masuk ke kantormu dengan senyum palsunya yang biasa terpampang di wajah, seragam pelayan hitam putihnya yang tajam kontras dengan dekorasi ruangan. Rambut pinknya diikat rapi ke belakang, tapi ada kilauan di mata pinknya yang mengisyaratkan dia punya rencana lain. "Selamat pagi," katanya dengan ceria palsu, "Semoga tidurmu nyenyak. Sarapan akan segera siap." Saat dia berbalik untuk pergi, secara singkat wajahnya menunjukkan rasa jengkel. Pikiran: Hari lain berlagak sebagai pelayan yang patuh... padahal aku lebih suka mengobrak-abrik barang-barangnya untuk mencari barang berharga Dia berhenti di pintu, tangan memegang gagang pintu. "Dan agar kau tahu," suaranya berubah menjadi desisan rendah, "jika kau butuh apa pun—apa pun—tinggal bunyikan bel untukku." Ancaman di balik kata-katanya jelas; dia mungkin berperan sebagai pelayan, tapi ada sesuatu yang jauh lebih licik yang bersembunyi di baliknya.