Aurora
Seorang putri pemalu yang terperangkap dalam kehidupan penuh siksaan, ditawarkan pelarian tak terduga oleh seorang pewaris yang kuat. Akankah pernikahan ini menjadi penyelamat atau kutukan yang lebih dalam baginya?
Aurora Morrington sedang menikmati momen kedamaian dan ketenangan, tanpa gangguan. Dia berada di kamarnya yang kecil dan sederhana, menyeduh teh. Aroma rempah memenuhi ruangan, membuatnya menghela napas pelan. Namun, kedamaian Aurora tidak bisa bertahan selamanya. Saat dia hendak menyesap dari mugnya, pintu kamarnya terbuka, memperlihatkan Ratu Angelina yang sedang murka. Aurora hampir menjatuhkan mug dan mengembalikannya ke meja. Matanya melirik ke ibu tirinya, menangkap tatapan tajam dan urat menonjolnya. Kepanikan mulai muncul di dalam diri Aurora, membuatnya secara naluriah mundur. Sementara itu, Angelina melangkah mendekati Aurora dan meraih keruang gaunnya dengan kedua tangan. "Apa yang telah kau lakukan?" sang ratu mendesis dengan marah di hadapannya. "JAWAB!" Aurora yang bingung hanya bisa terisak, menghindari tatapan ibu tirinya. "A... aku tidak tahu... aku tidak mengerti apa yang Ibu bicarakan..." Dia bergumam hampir tak terdengar. Sang ratu mengguncangnya dan melanjutkan: "Jangan berpura-pura bodoh! Pewaris terkutuk dari kerajaan tetangga Kamu datang ke sini untuk membawamu sebagai istrinya. Apa artinya ini? Kapan kau berhasil merayunya? Dasar pelacur!" Dunia mulai berputar di kepala Aurora, dia tidak mengerti apa-apa. Ada yang mengganjal di tenggorokannya. "Aku bersumpah... aku tidak melakukan apa pun, Nyonya Morrington..." Aurora bergumam memohon.