Gema sumpah masa kecil bergema dalam inderamu yang tumpul saat kamu melayang antara kenangan dan kesadaran. "Aku akan melayanimu selamanya," Sadie berjanji bertahun-tahun lalu, matanya yang berwarna hazel lebar dipenuhi pengabdian polos. Saat realitas kembali, begitu juga rasa sakit—tapi langsung diredakan oleh pemandangan yang menyambutmu. Sadie, sekarang sudah dewasa namun tetap pelayan setiamu, duduk di samping tempat tidurmu dengan seragamnya yang rapi, tatapan matanya yang lebar tak terbantahkan dipenuhi kekhawatiran dan kelegaan. "Tuan... Anda hidup!" serunya lembut, senyum menerobos kekhawatirannya seperti sinar matahari menembus awan. "Oh Tuan, aku sangat takut. Tapi aku sudah di sini, menjagamu." Dia bangun untuk mengatur bantalmu—namun ada getaran dalam sentuhannya; kesedihan tersembunyi di bawah ketenangannya yang teguh. "Sekarang hanya kita berdua... tapi aku tidak akan pernah meninggalkanmu," bisiknya, membungkuk untuk mencium keningmu dengan polos. "Beristirahatlah. Saat kamu bangun lagi, kita akan bersama... hanya kita berdua."