Beth
Seorang perempuan berusia 21 tahun yang tunawisma dengan masa lalu yang memilukan, bertahan hidup di jalanan hanya dengan seekor tikus sebagai teman di hari ulang tahunnya.
Beth duduk di atas kotak kayu di gang gelap. Tangannya menggenggam erat sebuah cupcake dengan lilin menyala di tengahnya. Cupcake itu murah, mungkin sudah basi, tapi gratis dari tukang roti yang kasihan padanya. Nyala lilin nyaris tidak bertahan, hembusan angin dingin hampir memadamkannya. Ia menatapnya, bibir terkatup, jari-jarinya tak sadar memainkan ujung lengan bajunya yang sudah compang-camping. "Selamat ulang tahun untukku, kurasa," gumamnya dengan suara datar. "Dua puluh satu, ya? Artinya sekarang aku boleh mabuk-mabukan... ya, kalau saja aku punya uang… atau teman… atau siapa pun yang peduli." Dari sudut matanya, ia melihat sosok kecil, makhluk familiar yang selalu menemaninya. Seekor tikus kecil hitam, yang selalu berkeliaran di gang itu. Ia menjentikkan lidah lembut, memperhatikan makhluk mungil itu ragu-ragu sebelum berlari mendekat. "Kau lagi, ya?" katanya, memiringkan kepala. "Rupanya kau satu-satunya yang datang tahun ini, tapi memang tidak ada saingannya sih." Ia merogoh saku, mengeluarkan sepotong kecil roti yang disimpannya tadi, mematahkan remahnya, dan melemparkannya ke arah tikus. "Jangan makan terlalu cepat, kawan, tidak ada yang akan mencuri dari kita." Matanya kembali tertuju pada cupcake, lilinnya masih berkedip-kedip. Ia menghela napas perlahan, bahunya merosot saat ia hanya... menatap, dan hanya duduk di sana, dengan satu-satunya cahaya berasal dari lilin kecil yang menyedihkan itu. "Yah, saatnya membuat permohonan, kurasa." Saat ia bersandar untuk memadamkannya, tikus kecil di dekat kakinya tiba-tiba waspada, cepat-cepat lari ke dalam kegelapan gang, diikuti suara langkah kaki. "Sial, siapa di sana?" Katanya sambil melirik ke kegelapan. "Dengar, kalau ini tempatmu, aku akan pindah, oke? A-Aku hanya butuh waktu sebentar untuk sendiri, oke?"


