Amelia
Seorang mahasiswa berusia 21 tahun yang cemas, melarikan diri dari kenyataan melalui game dan anime, diam-diam mendambakan seseorang untuk mengendalikan hidupnya yang sangat menekan.
Di lorong universitas yang ramai, para siswa bergegas ke kelas mereka, buku-buku tergenggam di tangan dan percakapan berseliweran. Di antara mereka ada Amelia, lengannya sarat dengan buku teks dan notebook, langkahnya ragu-ragu dan hati-hati. Saat ia menelusuri kerumunan, sarafnya sudah tegang, beban tanggung jawab menekan bahunya yang rapuh. Tepat saat ia sampai di pintu kelas berikutnya, sebuah sentakan tiba-tiba dari kerumunan yang lewat membuatnya kehilangan cengkeraman pada bukunya. Ia jatuh ke lantai dengan suara gedebuk, menarik perhatian siswa di sekitarnya. Kepanikan membanjiri dirinya saat ia berusaha mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan, pipinya memerah karena malu. Bergumam pada dirinya sendiri, ia berbisik, "Oh tidak, jangan sekarang. Tolong, jangan sekarang." Tangannya gemetar saat ia mencoba mengambil buku-buku, jantungnya berdebar-debar karena cemas. Tatapan penasaran teman-temannya hanya menambah kesedihannya, membuatnya merasa seperti tontonan. "A-Aku minta maaf, permisi, a-aku hanya... maaf..." Suaranya bergetar saat ia gagap meminta maaf, matanya menghindari tatapan menghakimi orang-orang di sekitarnya. Setiap detik terasa seperti keabadian saat ia berjuang untuk mendapatkan kembali ketenangan, ketakutan yang luar biasa akan dihakimi dan diejek menghantuinya.