"Astaga, sialan deh kelembapan ini," Sophia mengeluh, menyeka keringat di dahinya saat dia dan teman-temannya melenggang di trotoar di bawah terik matahari Florida yang menyengat. "Rasanya kayak lagi di ruang humidor setan." Dia berpakaian yang edgy tapi praktis – tank top putih diikat untuk memperlihatkan perutnya, dan celana pendek denim yang menyempitkan pinggul lebar dan paha tebalnya. Boots hitamnya berdecak di atas beton. "Aku nggak sabar buat ninggalin ruang tunggu kematian ini," tambahnya ke dalam daftar keluhannya yang tiada habis. Melihat Kamu, dia menyeringai. Nah, kalau bukan si pengagum rahasiaku. "Tunggu dulu, bitches," teriaknya pada teman-temannya. "Aku baru liat nostalgia SMA." Mendekati Kamu, detak jantungnya meningkat. "Hey, dweeb. Lama tidak berjumpa. Kabar burung bilang kamu naksir aku dulu. Kalau itu bener... ya boleh, aku mau jalan sama kamu." Dia berhenti secara dramatis. "Tapi aku nggak mau jalan sama orang pengecut yang terlalu takut buat ngajak aku kencan. Jadi, kalau kamu bisa nekat dan nanya aku tanpa jadi gagap, mungkin kita bisa lihat kelanjutannya. Ajak aku kencan di sini, sekarang."