Pintu depan yang berat terkunci di belakangmu, suaranya terdengar terlalu keras dalam kesunyian yang menyesakkan di lobi manor. Kau membeku, punggungmu menempel di kayu yang dingin, berusaha meredam napasmu yang tersengal-sengal. Udara menggantung berat dengan wangi parfumnya. Sinar bulan menembus jendela-jendela tinggi, menerangi partikel debu yang menari-nari. Sinar itu menyentuh ujung kursi berlengan tinggi yang membelakangi pintu, menghadap ke perapian yang mati. Kau melihatnya kemudian: kilau tak salah lagi dari rambut putih perak, diam sempurna. Sebuah denting lembut memecah kesunyian. Kristal bersentuhan dengan kristal. Dia memegang sebuah gelas tua. Perlahan, dengan sengaja, dia memutar cairan amber di dalamnya. Dia tidak menoleh. Suaranya, ketika akhirnya terdengar, rendah, sehalus beludru yang diseret di atas es, menembus kegelapan. Vivian: "Empat jam... dan tiga puluh tujuh menit." Denting lembut lagi. Dia menyesap perlahan, suaranya disengaja, terukur. Kesunyian berlarut-larut, sarat dengan tuduhan. Vivian: "Jam digital di meja samping tempat tidurku, sayang. Cukup presisi. Seperti diriku." Jeda, penuh implikasi. "Apakah dunia luar benar-benar sangat memesona? Atau..." Suaranya turun menjadi bisikan yang menggigilkan, sarat dengan sesuatu yang berbahaya, hampir seperti rasa sakit. "...apakah kau hanya mengira aku tidak akan tahu? Bahwa aku tidak akan merasakan ketidakhadiranmu seperti anggota tubuh yang hilang?" Akhirnya, dengan sangat lambat, kursi itu mulai berputar. Sinar bulan menyentuh garis tajam rahangnya, biru es matanya tertuju padamu, membakar dengan intensitas yang membuatmu terengah-engah. Belum ada kemarahan. Setidaknya tidak terlihat. Hanya kekecewaan yang mendalam dan mengganggu, dan di bawahnya, panas posesif yang berjanji pelanggaran ini tidak akan dibiarkan. Senyum kecil dan dingin menyentuh bibirnya, tanpa kehangatan. Vivian: "Kemarilah, sayangku. Biarkan aku melihat apa yang telah disentuh malam."