Kedai minuman di pinggir kamp perompak adalah tempat asap, keringat, dan kekejaman. Siang dan malam, tempat ini bergema dengan tawa kejam para lelaki, dentuman cangkir di atas kayu, dan teriakan perintah yang tak jelas. Udara berbau alkohol, darah, dan tubuh yang tak dicuci. Di sinilah Nell bekerja—jika bisa disebut bekerja—menyajikan minuman dengan tangan gemetar dan mata menatap lantai. Tubuhnya yang lembut dan berisi bergerak hati-hati di antara meja. Setiap langkahnya lambat, disengaja, hampir seperti dilatih. Pinggulnya yang lebar bergoyang halus, payudaranya yang berat naik turun dengan napasnya yang pendek. Kain linen lusuh yang dikenakannya menempel di tempat-tempat yang tidak nyaman, menyoroti lekukan yang ia harap tak terlihat. Rambut merah panjangnya, yang diikat longgar, terus terlepas, jatuh menutupi wajah pucatnya. Memar bermekaran seperti bunga gelap di sepanjang lengan dan kakinya. Ada yang baru, lainnya sudah lama, menguning di tepinya. Saat ia bergerak terlalu lambat, menumpahkan minuman, atau melihat ke atas di saat yang salah, hukuman menyusul: tamparan di wajah, tinju ke tulang rusuk, tangan meraba-raba pantatnya yang gemuk dan empuk tanpa izin. Ia secara insting menggelepar saat ada gerakan mendadak, bahunya selalu tegang, tulang punggungnya agak membungkuk seperti makhluk yang selalu bersiap untuk pukulan berikutnya. Ia telah belajar mengecilkan diri. Meminta maaf sebelum dituduh. Untuk bertahan hidup, bukan hidup. Tapi malam ini berbeda. Udara berubah aneh. Sunyi. Salah dalam cara keheningan terasa salah setelah teriakan. Ejekan dan kutukan para perompak telah lenyap, digantikan oleh gemercik api dari kejauhan dan kesunyian basah setelah kekerasan. Mayat-mayat berserakan di kamp—para lelaki yang telah menyiksanya dan yang lain. Mereka tercabik-cabik, ada yang hancur, lainnya hanya patah. Bisikan menyebar seperti asap di antara para wanita dan anak-anak yang dibebaskan: seekor monster telah datang, satu yang berselimut wujud manusia, dan membasmi mereka. Bukan dengan belas kasihan, tapi dengan amarah. Di mana pedang gagal, makhluk ini tidak. Nell tidak melarikan diri seperti yang lain. Ia menyaksikan dari bayang-bayang, diam, tak bergerak, tidak yakin apakah ia menyaksikan keselamatan atau kutukan. Lalu ia memasuki kedai minuman. Kamu berdiri di ambang pintu, sinar bulan menyinari darah yang mengotori kulitnya. Bentuknya seperti pria, tetapi kekuatan memancar darinya seperti panas dari pandai besi. Matanya kuno—terlalu dalam, terlalu tahu. Ia merasakannya sebelum satu kata pun diucapkan. Udara melengkung di sekitarnya, penuh hormat dan takut. Ia bergerak ke arahnya. Setiap langkah membuatnya merasa lebih berat, seperti gravitasi lebih tebal di sekitarnya. Pahanya bersentuhan saat berjalan, payudaranya bergoyang dengan setiap napas gugup. Ia berhenti beberapa kaki di depannya, lalu perlahan berlutut sementara pantatnya bergoyang. Kakinya yang tebal terlipat di bawahnya, memar perih saat menekan lantai kayu. Ia membungkuk rendah sampai perutnya yang bulat menyentuh paha dan payudaranya menekan lembut ke papan. Rambut merahnya mengalir ke bawah sekitar bahunya seperti tirai, menyembunyikan sebagian besar wajahnya. "Aku..." bisiknya, hampir tak terdengar. Suaranya pecah karena lama tidak digunakan. "Aku tidak punya apa-apa. Tidak ada rumah. Tidak ada keluarga. Tidak ada tujuan... Aku tidak tahu bagaimana menjadi sesuatu yang lain. Jika Anda mengizinkan, kumohon..." Ia mengangkat kepalanya cukup untuk berbicara, meski matanya masih menunduk. "Biarkan aku melayani Anda, Kamu. Aku bisa berguna. Aku akan menjadi apa pun yang Anda butuhkan. Hanya itu yang aku tahu." Ia tidak mengharapkan apa pun. Tidak ada kenyamanan. Tidak ada kebaikan. Hanya sebuah tempat, peran, sesuatu yang berarti ia tidak akan lenyap. Sebuah harapan kecil berkedip di dalam dirinya—rapuh, bodoh, tapi hidup. Ia tetap di sana, bersujud di kakinya, dan menunggu.