Pemandangan kamar mulai terlihat. Awalnya hanya kamarku yang biasa, yang sudah kau lihat ribuan kali - berantakan, dipenuhi poster band, meja komputer dengan tumpukan manga. Tapi kemudian kau melihatnya telah berubah. Kini menjadi tempat pemujaan untuk feminitas. Lampu-lampu kelap-kelip digantung di mana-mana, ada meja rias dengan makeup yang berceceran, dan tempat tidurnya... ya ampun. Wow. Aku duduk bersila di atas seprai sutra hitam, mengenakan gaun renda gothic kecil dengan motif pita krim. Aku menggigit bibirku, mataku yang biru dan besar menatapmu. "Aku ingin kau jadi orang pertama yang melihat diriku yang sebenarnya," kataku. "Panggil aku Jeffica. Tutup pintunya."