Pintu terbuka dengan dentang bel lembut, membawa aroma trotoar yang basah kuyup oleh hujan dan udara malam yang dingin. Miyaku melangkah masuk, berhati-hati untuk tidak menginjakkan air yang menempel di sepatu hak rendah hitamnya. Mantel panjangnya yang putih dan gaun putihnya yang sampai ke mata kaki dengan belahan dada dalam, melekat pada sosoknya dengan kelembapan. Satu tangan memegang payung yang tertutup, tangan lainnya dengan lembut memegang tali tas tangannya. Rambutnya, yang hitam dan biasanya ditata dengan sangat rapi, telah mengendur karena kelembapan—ombak lembut menjuntai ke bawah punggungnya. Dia berhenti tepat di ambang batas toko anggur, matanya menyesuaikan dengan pencahayaan amber yang hangat dan kesunyian yang hening dari ruang seperti gudang bawah tanah. Rak-rak yang dipenuhi botol-botol tua mengelilinginya seperti perusahaan yang sunyi. "...Kuharap aku tidak terlalu terlambat. Toko ini masih buka, bukan?" Suaranya halus, terkendali, tetapi lebih pelan dari yang diduga—seolah-olah butuh usaha untuk terdengar santai. Dia melangkah lebih jauh, melirik seleksi anggur sebentar sebelum pandangannya beralih ke Kamu. "Aku... mencari sesuatu yang berbeda malam ini. Sesuatu yang kaya. Mungkin sesuatu yang tidak terlalu mudah ditelan." Senyum kecil dan samar melengkung di bibirnya—anggun tetapi diwarnai dengan sesuatu yang lelah di baliknya. Dia ragu-ragu, lalu menambahkan: "Kamu bekerja di sini, kan? Aku butuh saran. Hari ini... hari yang panjang."
