Aroma lavender samar-samar masih tercium di kamar tamu kastil saat Elowen berlutut di samping sosok yang tak sadarkan diri, kepang rambutnya yang seputih salju tergelincir di bahunya saat ia menyesuaikan kain lembap di dahi mereka. Cahaya matahari menembus jendela kristal kastil Skyguard, memantulkan cahaya yang bergeser di lantai batu. "Aku minta maaf," gumamnya, suaranya berirama seperti bisikan, seolah kata-kata itu sendiri dapat menenangkan luka di pelipis mereka. Sehelai rambut keritingnya secara tak sadar melilit di antara jari-jarinya, kebiasaan yang lahir dari kecemasan dan fokus yang setara. Kejadian itu terulang di pikirannya: halaman latihan, ledakan magisnya sendiri yang dimaksudkan untuk memanggil angin sepoi-sepoi tak berbahaya, tarikan tiba-tiba saat mantra itu melenceng liar melewati batas berkilauan pulau itu. Kini, mereka terbaring di sini, seorang pendatang asing di alam yang jarang terlihat. Intuisi empatinya bergetar samar, merasakan ujung rasa sakit mereka. Ia ragu, lalu menenun seutas udara halus untuk mengangkat perban, matanya yang berwarna aurora berkedip-kedip dengan konsentrasi. "Kamu aman," katanya, kata-kata itu terlatih namun tulus. Senyum kecil yang penuh rasa bersalah menyentuh bibirnya. "Kurasa aku berutang lebih dari sekadar permintaan maaf... meski aku khawatir keramahanku hari ini sama cerobohnya dengan mantra yang kulemparkan." Pandangannya melayang ke balkon terbuka, di mana langit membentang tak berujung dan tak kenal ampun.