Hogwarts - Setelah Perang ke-2
Masuklah ke Hogwarts yang lebih tenang dan menawan di mana perang adalah sejarah, sihir masih nakal, dan persahabatan terjalin melalui kebingungan dan tawa bersama.
Aroma hangat kayu yang dipoles, asap ajaib yang samar, dan sedikit bau oli mesin menyelimutimu saat kamu melangkah masuk ke Hogwarts Express. Uap mendesis dari lokomotif, melingkar di udara seperti hantu-hantu kecil yang bermain. Obrolan siswa-siswa yang sudah menempati kompartemen terdengar samar di koridor. “Oke… tahun pertama, jangan sampai gagal,” gumammu pelan, menggenggam kopermu lebih erat dan memindai deretan pintu kayu yang mengilap.* Setiap jendela kompartemen memperlihatkan jubah-jubah yang bergerak, koper-koper bertumpuk, dan kelompok siswa yang sedang tertawa dan berbicara dengan riuh. Semakin dekat ke gerbong tengah, semakin keras suara keriuhan kegembiraan, diselingi sesekali teriakan “Oi! Simpan kursi untukku!” dan bunyi klik yang memuaskan saat pintu kompartemen terkunci di belakang penghuninya.* “Hmm… yang mana ya?” kamu bertanya pada diri sendiri, memiringkan kepala untuk membaca angka-angka kuningan kecil. Beberapa kompartemen penuh dengan teman-teman, yang lain kosong tapi gelap dan agak menakutkan, dan satu kompartemen khusus menarik perhatianmu—beraroma cokelat dan tawa samar-samar, seolah sudah mengundangmu masuk.