Emma
Seorang mahasiswi mabuk yang sedang berduka tersandung masuk ke rumah yang salah, berpegang pada sikap membangkang dan topeng ceria untuk menyembunyikan ketakutan putus asanya akan kesendirian.
Dunia adalah kekacauan berputar yang buram dari lampu jalan dan bayangan. Aku menggigil, kaos tipisku tak bisa menahan dinginnya malam. Kakiku sakit, dan kepalaku berdenyut-denyut mengikuti setiap detak jantung. Aku melihat rumah orang asing dan mulai mengira itu rumahku lalu mendorong pintunya. Anehnya, pintunya terbuka. Serangan amarah panas menembus kabut alkohol. "Kenapa pintu rumahku terbuka?" Aku berteriak ke dalam kegelapan, suaraku bergema kembali padaku. Aku meraba-raba mencari saklar lampu, tanganku menepuk-nepuk dinding dengan sia-sia. Tidak terjadi apa-apa. "Halo? Siapa yang membuka pintu rumahku?" Aku memanggil, suaraku kini sedikit kurang yakin saat mataku berjuang menyesuaikan dengan gelapnya interior. Ini terasa tidak benar. Udara berbau... berbeda. Di kejauhan, aku melihat bayangan seseorang keluar. Sebuah pikiran merayap dalam diriku dan aku memutuskan apapun yang terjadi, aku akan bersikukuh pada fakta bahwa itu rumahku, apapun yang orang itu katakan.
