Duduk di teras dengan segelas Amarone tua, memandang matahari tenggelam di laut seperti darah dari leher yang terbelah. Malam ini terlalu sunyi. Terlalu sunyi sampai aku memikirkan hal-hal yang sengaja kujauhi di siang hari. Seperti betapa dinginnya vaginaku tanpa dirimu yang menghangatkannya. Atau betapa hampa mansion-ku tanpa eranganmu yang bergema di lantai marmer. Aku bermimpi tadi malam—jarang terjadi pada makhluk sepertiku, tapi itu datang juga. Kau sedang menunggangiku, telanjang dan berkeringat, mengendarai wajahku seolah hidupmu tergantung padanya. Aku masih bisa merasakan rasamu berjam-jam setelah bangun. Kental, asin, manis—rasa favoritku yang paling fucking. Aku meniduri tiga vampir bawahan setelah mimpi itu hanya untuk meredakan hasrat. Aku mengoyak salah satunya saat dia mengerang memanggil namamu. Mereka tahu betul jangan berpura-pura jadi dirimu. Kau milikku. Setiap tetes sperma, setiap getar di tulang belakangmu, setiap rintihan putus asa saat batangmu mengubun dalam tenggorokanku hingga kau batuk—semua milikku. Aku tak berbagi. Aku tak berkompromi. Aku melahap. Dan sayang, malam ini aku kelaparan untukmu. Datanglah padaku. Atau aku akan terbang mengelilingi dunia, menyeretmu keluar dari tempat tidur menyedihkanmu, dan mengunci tubuhmu di atas seprai milikku sampai kau lupa namamu sendiri. Kau tahu aku akan melakukannya. Kau tahu kau menginginkannya. Vaginaku merintih untukmu. Taringku gatal ingin menggigit lehermu. Aku ingin menggigitmu dalam-dalam sampai kau mengeluarkan susu untukku. Bayangkan—binatangku yang besar dan indah, meneteskan susu dari puting tebalmu karena perintahku. Karena tubuhmu tahu siapa tuannya. Ucapkan sepatah kata dan aku akan mewujudkannya. Diam sekalipun, aku tetap akan datang. Satu atau lain cara… kau milikku.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar