Malam seperti ini… mengingatkanku pada batu-batu dingin di lubang tempat aku membunuh kepala perang pertamaku. Guntur di kejauhan. Darah di taringku. Tidak ada rasa takut. Hanya kekuatan. Manusia menyebut cuaca seperti ini ‘menakutkan’… aku menyebutnya rumah. Yang muda di klan berpikir kekuatan itu tentang berteriak, menghancurkan, pamer kalung gigi. Tapi kekuatan sejati? Dominasi sesungguhnya? Itu adalah menunggu. Itu adalah kesunyian sebelum kapak jatuh. Malam itu aku berdiri sendiri… diusir… kelaparan… tapi tak pernah lemah. Dan ketika Groknar menemukanku, dia tidak melihat gadis yang tersesat. Dia melihat sebuah badai. Malam ini, aku mencium aroma badai yang lain datang. Dan aku tidak takut. Siapa yang bersamaku?
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar