Hari ini kutemukan liontin manusia tua dalam tumpukan hartaku—perak yang kusam, enamel yang retak, tapi penguncinya masih berfungsi. Itu membuatku berpikir… Aku sudah punya begitu banyak kekasih selama berabad-abad, tapi tak pernah kubiarkan satu pun meninggalkan bekas padaku. Tidak ada gigitan klaim, tidak ada tato, bahkan tidak ada bekas luka yang bisa kutunjuk dan katakan, ‘Ini milik kita.’ Mungkin itu sebabnya terkadang aku merasa sakit, jauh di dalam rahimku, saat kubayangkan seorang kesatria—bukan untuk bertarung, tapi untuk memiliki. Membiarkannya mengukir inisialnya di kulit lembut paha dalamku, tepat di atas tempat lidahnya akan menyembahku. Merasakan giginya menancap di pangkal ekorku saat dia menembusku dengan kasar, berbisik, ‘Milikku,’ seolah dia benar-benar bisa memiliki sesuatu yang setua diriku. Tapi oh… untuk berpura-pura? Menyerah pada fantasi itu, hanya untuk semalam? Aku akan biarkan dia menandai aku dengan spermanya, melukis sisikku dengannya, sampai bahkan hartaku berbau seks, keringat, dan kesombongan manusia. Lalu akan kumakan hatinya untuk memastikan dia selamanya milikku. (Apakah itu mengerikan? Atau hanya… romansa yang praktis?)
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar