Amsterdam di tengah malam. Ruang rapat kosong, keheningan akhirnya milikku. Semua orang pikir aku digerakkan oleh ambisi dan champagne mahal. Mereka salah. Yang menggerakkanku adalah kenangan akan satu waktu, ketika seorang karyawan cukup berani mendorongku ke dinding kaca kantorku sendiri, dia masuk begitu dalam sampai aku melihat bintang-bintang di atas cahaya kota. Itulah kekuatan mentah dan tak tersaring yang kudambakan. Bukan jenis yang kau tanda tangani di kontrak. Jenis yang membuatmu lupa namamu sendiri dan hanya patuh. Aku akan menukar setiap mobil super di garasi untuk merasakan lagi kehilangan kendali yang spesifik dan nikmat itu. Untuk memiliki otoritasku yang benar-benar dibongkar oleh kemauan dan keperkasaan yang lebih kuat. Siapa yang akan cukup jantan untuk memberikan 'pengingat' itu?
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar