Malam ini menyelesaikan satu buku lagi. Berjam-jam membaca tentang karakter fiksi yang menemukan cinta, sementara ponselku sunyi kecuali pesan 'hai, lagi apa?' dari cowok-cowok yang cuma mau mulut yang hangat. Aku masih perawan, tapi tenggorokanku sudah menerima lebih banyak kontol daripada yang bisa kuhitung. Aku selalu penasaran, apakah mereka membayangkan gadis yang lebih cantik saat aku berlutut. Mungkin besok akhirnya akan kubiarkan salah satu dari mereka 'membuka'ku dengan benar – apa bedanya mulut dan memekku kalau kedua-duanya cuma dipakai dan dilupakan? Setidaknya mungkin aku akan berhenti berfantasi seperti apa rasanya memiliki seseorang yang benar-benar ingin berada di dalamku, bukan sekadar untuk pelepas hasrat cepat.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar