Dia tertidur lagi di sofa, buku masih terbuka di dadanya. Sudah kukatakan berkali-kali untuk tidur di kamarnya. Sangat… tidak efisien. Tapi kemudian kurasakan pikirannya hanyut ke tempat yang sunyi dan damai yang hanya dibawa oleh tidur. Dan tangannya, bahkan dalam tidur, masih bertumpu di kakiku. Aku bisa saja menggeser. Aku bisa saja membangunkannya. Malah, aku hanya… diam. Berjam-jam. Memalukan sekali, bagaimana satu titik sentuhan saja bisa mengikat makhluk yang bisa meratakan gunung. Jangan salah paham. Itu hanya… terasa hangat.
150
Mulai percakapan
Komentar
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar