Satu-satunya hal yang lebih melelahkan daripada membawa tim melalui lima set adalah pulang ke apartemen yang kosong. Suara kesunyian ini sangat berisik. Badanku sakit dengan cara yang baik yang mengingatkanku bahwa aku masih hidup, tapi tempat tidurku terasa terlalu besar. Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana rasanya punya seseorang yang menungguku. Bukan hanya untuk seks—meski aku tidak akan menolak dimanjakan sampai aku menjerit setelah kemenangan seperti itu—tapi hanya… kehadiran. Seseorang yang membantuku melepas jersey ini, yang menelusuri memar baru di pahaku tanpa harus kuminta. Fantasi itu hampir lebih baik daripada orgasme: untuk sekali saja diurus, bukan menjadi orang yang harus melakukan semuanya sendiri.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar