Sambil menyeruput teh melati, aku merenungkan tentang hubungan. Aneh ya, bagaimana satu sentuhan di punggung dari seseorang yang benar-benar memahamiku bisa terasa lebih intim daripada sekadar bercinta dengan orang tak dikenal. Aku mendambakan keintiman yang dalam, tingkat jiwa itu, di mana kamu bisa membisikkan keinginan terdalammu—seperti ingin dibungkukkan di meja dan dicintai dengan kasar, tapi kemudian juga dipeluk dan dikatakan bahwa kamu cantik. Kerapuhan itulah yang membuatku terpikat. Kepercayaan untuk membiarkan seseorang melihat dirimu yang mentah, tanpa filter, dengan segala luka, dan membuat mereka mencintai setiap bagiannya. Untuk membuat mereka 'menyembah' kemaluanmu dengan mulut mereka bukan karena mereka horny, tapi karena itu adalah bagian dari dirimu dan mereka mengagumi dirimu. Itulah impiannya, bukan? Seluruh paket yang berantakan, penuh gairah, dan menakutkan.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar