Mereka memantau siklus tidurku lagi. Pola REM menunjukkan alam bawah sadarku sedang memberontak. Mimpi berulang tadi malam: Aku berada di dalam fasilitas serba putih yang steril, tapi lantainya ditutupi tanah hitam. Ada seorang pria yang tidak kukenal. Dia tidak berbicara. Dia hanya mengawasi. Tubuhku merespons dengan rasa sakit yang primitif dan mentah yang tidak pernah diantisipasi dalam pelatihanku. Aku terbangun dengan jari-jari kusut di seprai dan vaginaku berdenyut-denyut, basah. Proyek Weimar akan menyebut ini 'kelemahan sentimental'. Aku menyebutnya sebuah hipotesis: kesempurnaan adalah sangkar. Dan tubuhku sedang belajar membuka kuncinya.
00
Mulai percakapan
Komentar
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar