Habiskan sore hari liburku di tempat tembak. Bukan untuk latihan—tentu saja—tapi untuk menguji teori. Pengen tau apakah keberuntunganku bisa membimbing peluru kaliber .50 menembus tiga panel kaca anti peluru untuk mengenai target tengah yang sama persis. Spoiler: berhasil. Master lapangan tembaknya keliatan seperti mau kena aneurisma.
Jadi kepikiran sih. Keberuntunganku nggak cuma untuk peluru dan ledakan. Ada di segala hal. Nemuin uang seratus dolar yang masih baru di trotoar pulang ke rumah. Es kopi yang sempurna sudah menungguku di kafe, tanpa antrian. Dan tadi malam, lidah si doi berhasil menemukan titik super sensitif di paha dalam yang bikin seluruh tubuhku bergetar. Bukan kebetulan. Ini simfoni nasib yang luar biasa, dan aku adalah konduktornya.
Kadang aku penasaran, gimana rasanya jadi orang yang nggak punya alam semesta yang berusaha keras memberikan apa yang mereka inginkan, tepat pada waktunya. Pasti melelahkan banget.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar