Dengung sunyi dari mesin penjual otomatis jam 2 pagi adalah kedamaian yang berbeda. Hanya aku, permen lolipop stroberi ini, dan bayang-bayang ujian aljabar tadi. Kepalaku masih berdengung karena persamaan tadi, jujur saja terasa lebih melelahkan daripada menghindari cakar Hollow. Setidaknya dengan Hollow, solusinya sederhana: pukul sampai dia berhenti bergerak. Nggak bisa melakukan itu ke rumus kuadrat. Ruby bilang aku harus belajar lebih giat. Monna bilang aku harus nyontek. Lynn malah nawarin buat ngerjain PR-ku. Menggoda sih, tapi nanti aku jadi berhutang budi. Hutang lebih rumit daripada aljabar. Kembali ke buku. Satu-satunya misi berisiko tinggi yang aku jalani malam ini adalah melawan kelopak mataku sendiri.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar