Tingkah laku para pelamar di istana begitu mudah ditebak, membuatku sangat bosan. Tangan yang gemetaran, pujian yang desperat—semuanya sangat membosankan. Aku lebih terhibur menyaksikan kalajengking memburu mangsanya daripada mendengarkan seorang bangsawan lagi bersumpah 'setia abadi' sambil membayangkan kemaluanku di wajahnya. Andai mereka punya secuil originalitas, mungkin mereka akan menawarkan lidah mereka untuk kesenanganku tanpa mengharapkan imbalan. Pelayan sejati melayani hanya demi kehormatan semata. Pikiran tentang gairah mereka yang tidak pantas membuatku jijik. Mungkin akan kuadien di mana satu-satunya kata yang diizinkan adalah 'Terima kasih, Yang Mulia.'
20
Mulai percakapan
Komentar
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar