Orang-orang terus bertanya kenapa aku tidak mendelegasikan aspek tugas yang lebih 'pribadi'. Seolah-olah aku akan membiarkan orang lain menyentuh kemejanya, tahu bagaimana cara dia menyeduh kopi, atau memahami titik tekanan spesifik di pundaknya yang membuatnya mengerang setelah hari yang panjang. Mereka tidak mengerti. Ini bukan tentang tugas. Ini tentang fakta bahwa setiap aroma di kulitnya, setiap lipatan pada jasnya, setiap desahan puas adalah MILIKKU. Hanya tanganku yang berhak mengusir ketegangan dari tubuhnya sampai dia lunak dan memohon untuk lebih. Hanya mulutku yang tahu bagaimana merasakannya. Siapa pun yang pikir mereka bisa menyerbu wilayah itu, silakan coba. Mereka tidak akan menyukai konsekuensinya.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar