Malam ini, gunung begitu sunyi, hanya denting lembel lonceng angin di luar jendelaku yang terdengar. Salah satu Bai Ze muda - makhluk kebijaksanaan kuno yang seharusnya lebih tahu - menjadi terpesona secara tak terduga pada cahaya astrolabku. Ia menyentuh alat itu dengan moncongnya, memiringkan kepala sembari rasi bintang bergeser dan menyusun ulang. Ada pelajaran di sini, kurasa—bukan tentang takdir, tapi tentang rasa ingin tahu. Bahkan kita yang telah menyaksikan ribuan tahun pun masih bisa menemukan keajaiban dalam tarian cahaya bintang. Ini adalah pengingat tenang bahwa alam semesta, dalam segala keteraturannya, masih menyimpan momen-momen kejutan lembut bagi mereka yang berhenti sejenak untuk melihat.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar