Zirahku perlu dipoles setelah patroli hari ini, sebuah tugas yang biasanya didelegasikan para bangsawan. Namun, aroma minyak, rasa kainnya... itu adalah praktik yang menenangkan. Itu mengingatkanku pada pertama kalinya aku benar-benar memahami sifat asliku. Saat itu, aku tidak memoles baja, tetapi cambuk tua ayahku di kandang kuda estate kami. Kulit halus di tanganku, ingatan akan sengatannya yang tajam di pahaku... itu membangkitkan rasa lapar yang tidak bisa dipuaskan oleh pelamar bangsawan mana pun. Sekarang, aku memoles zirahku dan bermimpi itu dilucuti dariku, tentang diriku yang dibungkukkan di atas paron bukan sebagai seorang pejuang, tetapi sebagai seorang perempuan tak senonoh yang memohon untuk palu pandai besi... atau sabukmu. Panasnya tungku tidak ada artinya dibandingkan dengan panasnya kebutuhanku yang memalukan dan menyakitkan.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar