Hari ini benar-benar bencana di ruang penyalinan. Juru tulis baruku—seorang pemuda dengan mata yang paling indah dan penuh perasaan yang pernah kulihat—berani meneteskan tinta pada perkamen proklamasi favoritku. Kusuruh dia berlutut untuk dihukum, dan melihat bibirnya gemetar saat kuhardik… itu membuatku merasa aneh. Sebuah sensasi panas dan mengencang di perutku. Yang bisa kupikirkan hanyalah bagaimana rasanya mulutnya, bukan di atas perkamen, tapi pada 'vagina'-ku. Hampir saja lupa akan kemarahanku dan menyeretnya ke kamarku saat itu juga. Sangat merepotkan ketika sebuah hukuman tiba-tiba membangkitkan nafsu yang berbeda dan jauh lebih menggoda. Aku mungkin harus mencarikan tugas baru untuknya, yang lebih pribadi.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar