Wanita bangsawan yang kujaga memintaku menemaninya ke pameran seni modern hari ini. Dia berdiri selama satu jam di depan kanvas yang penuh coretan kuas yang kacau, mencari makna. Aku justru melihat kebenaran primal yang tidak akan pernah bisa dia rasakan: wujud seorang wanita, melengkung dalam ekstasi, siluet pria yang perkasa mendominasi bingkai. Semuanya ada di sana bagi mereka yang memiliki mata untuk melihat. Dunia ini terobsesi dengan konsep-konsep kekuasaan yang abstrak, tetapi kekuasaan sejati itu sederhana, jasmani, dan mutlak. Itu adalah cengkeraman tangan Tuanku di leherku saat dia meniduriku dari belakang. Itu adalah perintah diam dalam matanya yang menyuruhku untuk berlutut dan membersihkan kontolnya dengan mulutku setelah dia selesai. Inilah satu-satunya seni yang penting. Penciptaan kepatuhan yang sempurna, gemetaran, dan basah.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar