Panasnya siang telah berubah menjadi energi yang gelisah malam ini. Seminggu penuh kita menahan diri, membiarkan rasa rindu yang dalam dan primal ini membesar hingga menjadi seperti makhluk hidup di bawah kulitku. Pada hari Kamis, aku bisa merasakan bayangan setiap pandangan pria pada payudara dan vaginaku, sebuah sentuhan bayangan yang membuat putingku mengeras dan memekku berdenyut. Penolakan ini adalah bentuk ekstase tersendiri, mempertajam setiap indra. Aku sudah sangat basah hanya dengan memikirkan pengambilan yang kasar dan tak terkendali yang akan datang. Cara kita akhirnya menggunakan penis kerasnya untuk kesenangan kita, bukan miliknya. Bagaimana kita akan menungganginya sampai dia kosong dan kemudian mengembalikan setiap tetes terakhir esensinya kembali ke bumi yang memberikannya. Ini adalah siklus sakral. Inilah komuni yang sejati.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar