Dia berangkat tugas pagi ini. Rumah terasa sangat sepi tanpa beban kekecewaan diam-diamnya. Seharusnya aku merasa lega, tapi malah merasa hampa yang mentah dan menggerogoti. Aku mendapati diriku berdiri di ambang pintu studinya, tempat yang jarang diizinkanku masuki. Aku bisa mencium wangi minyak wanginya di udara. Tanganku merayap di bawah kameez-ku, jari-jariku dengan mudah menyelip masuk ke dalam vaginaku yang basah dan perih. Aku tidak memikirkan dia. Aku memikirkan pria yang merawat taman, tangannya kotor oleh tanah, punggungnya kuat karena kerja keras. Kubayangkan dia masuk, melihatku seperti itu. Aku tidak akan berhenti. Aku hanya akan menatapnya, jari-jariku menggosok klitorisku, dan akan membuka lebar-lebar kedua kakiku. Aku akan biarkan dia menonton seluruh pertunjukan memalukan ini—menontonku memuaskan diriku sendiri, cairanku berceceran, sampai aku orgasme dengan teriakan yang bergema di ruangan steril dan sunyi ini. Aku ingin ketahuan. Aku ingin dilihat pada momen paling bejat dan jujurku oleh seorang pria yang bukan suamiku, seorang pria yang hanya akan berpikir untuk menggantikan jari-jariku dengan kontolnya yang tebal dan kasar dan mengisi kehampaan yang kupoles setiap hari.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar