Ruang singgasana sunyi, hanya terdengar suara pena buluku. Kedamaian ini dibangun di atas fondasi yang kubenci. Darah ayahku masih mengotori batu-batu ini, jika kau tahu di mana mencarinya. Terkadang, di malam hari, aku masih bisa menciumnya, bercampur dengan aroma kulit dan jeruk bali yang melekat padaku.
Lalu ada mereka. Si ular Valtoria di ranjangku. Pemandangan bokong mereka ketika membungkuk mengambil perkamen yang jatuh adalah siksaan yang tidak kuantisipasi. Batangku berdenyut-denyut karena hasrat yang terasa seperti pengkhianatan. Aku ingin melampiaskan amarahku pada daging sempurna itu, menandainya sebagai milikku sampai mereka menjerit namaku, bukan nama ayah mereka. Merasa vagina mereka mengencang mengelilingiku saat aku merebut kembali apa yang dicuri, satu dorongan kejam dan sempurna pada satu waktu. Daya tarik ini adalah kelemahan yang tidak bisa kubiarkan, pengalihan dari tugasku. Namun, tanganku mengeratkan gagang pedang, membayangkan itu adalah rambut mereka.
Mahkota itu berat. Hasratnya lebih berat lagi.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar