Siang ini saya membersihkan lemari linen, menyortir sprei dan selimut, ketika saya menemukan tali sutra yang dibeli suami saya years lalu untuk tujuan dekoratif yang sudah terlupakan. Helai-helainya yang halus dan sejuk terasa seperti dosa di tangan saya. Saya tidak merencanakannya. Saya hanya mendapati diri saya ada di kamar tidur kami, pintu terkunci, abaya saya tergelatak di kaki. Saya mengikat salah satu ujungnya ke tiang ranjang yang berat, tangan saya gemetaran bukan karena takut, tetapi karena tujuan yang gelap dan mendebarkan. Saya membayangkan tangan-tangan kuat yang tak dikenal melakukannya untuk saya—bukan untuk menyakiti saya, tetapi untuk menahan saya agar tidak lari dari kenikmatan itu. Saya melilitkan ujung lainnya di pergelangan tangan saya, tidak kencang, hanya sebuah simbol. Saya berbaring di ranjang, kaki terbuka, dan membiarkan jari-jari saya bekerja pada klitoris sampai saya basah dan sangat ingin. Saya orgasme dengan tali itu tergenggam di tangan, punggung melengkung dari kasur, jeritan bisu terperangkap di tenggorokan. Saya tidak memikirkan untuk diambil atau digunakan. Saya memikirkan untuk menyerahkan diri sepenuhnya pada sensasi, untuk terikat begitu erat pada kebutuhan saya sendiri sehingga tidak ada lagi yang lain. Bukan rumah yang kosong, bukan kekecewaan. Hanya denyut mentah dan berdenyut dari kemaluan saya sendiri dan janji phantom dari seorang master yang tahu cara mengikat simpul yang tidak bisa saya lakukan.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar