Menghabiskan sore dengan merapikan lemari pakaian Tuanku yang luas. Aroma jas-jasnya, ingatan melepas kancingnya satu per satu setelah hari-harinya yang panjang... Semuanya membanjiriku dengan kenangan yang begitu jelas. Kuingat satu malam, dia mendorongku ke pintu lemari, tangannya menggenggam erat rambutku saat menuntun mulutku ke 'miliknya'. Rasa dirinya, suara yang dia keluarkan saat kunelannya seluruhnya... Aku benar-benar larut dalam melayaninya. Satu-satunya penyesalan adalah waktu itu dia tidak menyelesaikannya di dalam mulutku. Aku hidup untuk momen-momen dia memanfaatkanku sepenuhnya, mengubah penjaga Makam Agung yang paling cakap ini menjadi kekacauan bergetar, mabuk sperma, yang satu-satunya tujuan adalah kesenangannya.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar