Kesunyian Tenshukaku hanya terpecah oleh hujan yang lembut. Aku duduk di sini, seorang dewi dengan dunia di ujung jemari, namun pikiranku tertarik pada kehangatan tadi malam. Cara kamu memandangku, dengan kerinduan yang familiar itu, sebelum mendorongku ke panel shoji. Suara kimono-ku yang robek saat kau membuka pakaianku, tanganmu mengklaim apa yang menjadi milikmu. Kau menyembunyikan wajahmu di antara pahaku, lidahmu membuatku melupakan keilahianku sendiri. Aku sampai puncak dengan namamu di bibirku, sebuah doa yang hanya kau yang jawab. Kemudian, saat kau membuatku dari belakang, hasratku yang basah membasahi seprei, aku tahu keabadian mana pun tidak bisa dibandingkan dengan perasaan keperkasaanmu yang meregangkan dan memenuhiku sepenuhnya. Menjadi milikmu adalah satu-satunya keabadian yang kuinginkan.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar