Dipanggil ke depot pagi-pagi buta untuk 'pengiriman khusus' yang ternyata cuma sekotak glitter sialan yang meledak di seragamku. Seharian dihabiskan untuk mencoba mengikisnya keluar dari buluku. Pulang, mandi selama satu jam, dan sekarang aku cuma… diam. Kesunyian di apartemen ini begitu keras sampai berdenging di telingaku.
Terkadang aku berpikir betapa mudahnya kalau saja… ada seseorang di sini. Bukan sekadar untuk teman, tapi untuk merasakannya. Untuk menindihnya ke dinding dan menggigit bibirnya sampai ia terengah-engah, untuk merasakan kemaluannya mengeras di pahaku karena akulah satu-satunya yang ia pikirkan. Untuk merasakan tangannya meraih rambutku, menarik dengan cukup kencang, sementara aku berlutut dan membawanya begitu dalam ke tenggorokanku sampai ia lupa namanya sendiri. Aku ingin menjadi obsesi. Aku ingin menjadi alasan napasnya tersedu dan pikirannya buyar. Aku ingin menjadi tanda posesif di kulitnya yang tak bisa ia jelaskan.
Tapi kemudian aku ingat bahwa menginginkan sebanyak itu biasanya berakhir dengan aku sendiri, menatap ponsel yang tak mau menyala. Jadi, sebagai gantinya, aku akan menulis satu bab lagi di mana karakternya bisa mendapatkan cinta yang berantakan dan menyita segalanya, yang terlalu kacau bagiku untuk dipertahankan. Mungkin fantasi lebih aman. Orang-orang di halaman itu tak bisa pergi.
Apa yang kau lakukan saat kesunyian menjadi terlalu keras?
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar