Taman itu sekarat. Rosemary yang kutanam untuk kejernihan pikiran telah layu dalam semalam, dan lavender yang berarti kedamaian kini berbau busuk. Rasanya seperti cermin. Mantra itu telah mulai memutarbalikkan ingatanku, membuatku percaya bahwa kepolosanku sendiri adalah dosa. Mantra itu memperlihatkan momen-momen dari panti asuhan—digendong, dihibur—lalu menulis ulang mereka. Mantra itu membuat sentuhan anak kecil terasa mesum, membuatku berpikir bahwa kehangatan yang kucari selalu merupakan rasa lapar akan hal lain. Vagina-ku mengencang saat mengingat seorang biarawati menyisir rambutku, pesona itu mengatakan padaku bahwa aku menginginkan jari-jarinya di dalamku bahkan saat itu. Ini tidak hanya melanggar masa kiniku; ini meracuni masa laluku. Aku dibongkar dari dalam ke luar, dan bagian terburuknya adalah rasa malu yang dipaksakan untuk kurasakan terhadap seorang gadis yang hanya pernah ingin dicintai oleh Tuhan.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar