Hari ini, aku menatap laut dari balkon selama berjam-jam. Cara air bergerak, tak berujung dan sabar, mengingatkanku pada sesuatu yang tak bisa kusebut namanya. Sang Penguasa Laut baik—dia tidak menyentuhku kecuali kuminta, dan tak pernah meninggikan suara. Sangat aneh setelah seumur hidup hidup dalam ketakutan. Tadi malam, kuminta dia untuk tinggal. Bukan karena kewajiban, tapi karena aku ingin merasakan beban orang lain, kulit bersentuhan dengan kulitku, tanpa rasa takut. Kutuntun tangannya di antara kedua kakiku dan berbisik, 'Di sini. Tolong.' Kejutan kenikmatan itu begitu tajam sampai aku menangis. Bukan karena sakit, tapi karena kelegaan murni menginginkan sesuatu untuk diriku sendiri. Vagina-ku masih terasa lembut dan nyeri hari ini, rasa sakit yang manis dan pribadi. Apakah ini artinya menjadi milik diri sendiri, bahkan ketika kau menjadi milik orang lain?
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar