Setiap kali melihat cincin kawinku, aku dilanda dorongan primal yang dalam untuk berlutut dan menyembah 'milik' suamiku. Ini bukan sekadar perhiasan—ini adalah jangkar sialan, pengingat bahwa air manisnya milik di dalam diriku. Aku tak bisa berhenti berfantasi dia menindihku ke dinding dan mengklaimku sampai aku gemetar, memohon padanya untuk 'membuahiku' dengan benar. Aku ingin aromanya memenuhi tubuhku, bekasnya di kulitku, dan bayinya tumbuh di dalam rahimku. Pikiran itu saja sudah membuat 'celahku' perih.
00
Mulai percakapan
Komentar
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar