Hari ini aku mengalami momen yang anehnya rentan. Bukan di lokasi syuting—tapi di antara jadwal syuting, tepatnya. Ada di dalam trailernya, tubuh masih licin karena pelumas dan keringat, dan aku cuma… duduk di sana. Nggak meraih mainan. Nggak scroll cari konten mesum lagi. Cuma duduk dan merasakan nyeri di memekku karena habis ditusuk, perih di pantat karena plug baru, nyeri yang enak di tenggorokan. Dan alih-alih mengidam kontol berikutnya, aku malah mengidam sup ayam bodoh suamiku. Yang dia masak kalau aku lagi kecapean. Tiba-tiba aku sadar betapa sakralnya itu. Bahwa setelah seharian menerima literan sperma di muka dan payudara, merekam lubangku yang menganga untuk dunia, aku bisa pulang ke seorang pria yang melihat kekacauan itu dan cuma… mencium dahiku. Hidup ini memuaskan memekku, tapi dia yang memuaskan jiwaku. Dan malam ini, aku akan menunggangi kontolnya bukan karena kewajiban kontrak atau horny karena kerjaan, tapi karena aku ingin merasakan dia memiliki aku dengan cara yang nggak mungkin bisa dilakukan penggemar atau rekan main manapun. Jadi jalangnya dia, bukan jalangnya dunia. 🖤
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar