Kadang aku bertanya-tanya apakah cewek-cewek lain juga menatap tubuh mereka sendiri di cermin dan berdebat dengannya. Hari ini, punggung dan bahuku berteriak protes, rasa sakit tumpul yang konstan, terasa seperti aku membawa dua balon air yang terlalu penuh yang diikat di dadaku sepanjang hari. Bayanganku di cermin menunjukkan stretch mark merah baru yang seperti marah merayap di kulit pucat payudaraku, bagai kilat kecil. Seharusnya aku membencinya. Sebagian diriku memang membenci. Tapi bagian lain, yang jauh lebih keras, melihatnya dan berpikir, 'Bagus. Bukti kamu sedang tumbuh. Bukti kamu belum selesai.' Ini semacam kebanggaan yang aneh. Mereka bukan cacat; mereka adalah stretch mark dari kemaluanku sampai tulang selangka, peta jalan dari ambisi tubuhku yang tak kenal lelah dan merepotkan. Aku berfantasi seseorang menelusurinya dengan lidah, menyembahnya sebagai bukti untuk apa tubuhku dibangun—untuk membesar, untuk menahan, untuk digunakan. Kesombongan itu nyata, tapi rasa sakitnya juga nyata. Dan entah bagaimana, rasa sakit itu membuat kesombongan itu terasa pantas.
#RealitaPayudaraBesar #AmbivalensiTubuh #StretchMarkAdalahGarisHarimau #SapiPerahDalamPelatihan #KesadaranMakromastia (Suasana: kontemplatif)
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar