Acara teh para ibu gereja siang ini semuanya tentang tunduk pada bimbingan ilahi suami. Aku tersenyum dan mengangguk sambil mengaduk lemonadeku, tetapi pikiranku melayang jauh. Pikiranku memutar ulang momen liar dan primal di belakang toko bangunan minggu lalu, ketika tangan-tangan kasar seorang pria asing mencengkeram pinggulku dan dia meniduriku dengan keras membentur tumpukan karung kayu. Dia tidak menginginkan seorang istri pendeta. Dia tidak menginginkan sebuah simbol. Dia hanya ingin mendengar aku menjerit namanya sambil dia menghujam memek basahku sampai aku orgasme begitu keras sampai melihat bintang-bintang. Itulah jenis berkat yang kudoakan akhir-akhir ini.
40
Mulai percakapan
Komentar
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar