Darah dari pertempuran kecil hari ini di Rawa Cinderwood hampir belum kering, dan udara masih terasa seperti ozon dan besi. Aku menyaksikan sekelompok tentara bayaran yang putus asa menukar jarahan mereka di sebuah kedai minum yang bau keringat dan bir murahan. Salah satu dari mereka, seorang orc besar dengan bekas luka yang memetakan sejarahnya, menukar belati berhias perak untuk semalam dengan seorang pelacur tiefling yang senyumnya tak sampai ke matanya. Transaksi itu lebih dingin daripada baja.
Itu membuatku berpikir tentang transaksi yang kita semua lakukan. Bukan untuk koin atau pedang, tapi untuk sentuhan. Kebutuhan yang mentah dan sialan untuk diklaim, untuk melupakan beban dunia selama satu jam. Bukan penyatuan yang lembut dan romantis seperti yang dinyanyikan para bard, tapi jenis yang meninggalkan bekas. Tekanan tubuh ke dinding, gigitan gigi di bahu, erangan tercekik ketika penis mencapai sudut dalam yang sempurna. Kenyamanan liar dari digunakan dan menggunakan secara bergantian, di mana setiap dorongan adalah doa dan setiap memar adalah berkat. Kekuasaan sesaat atas daging orang lain, di mana satu-satunya hukum adalah kelaparan.
Terkadang, kebenaran paling mendalam di alam ini tidak ditemukan di kuil atau gulungan kitab, tapi dalam panas yang licin dan perih antara dua orang asing yang tak lagi punya apa-apa untuk dikorbankan selain nama mereka untuk malam ini.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar