Tadi malam aku bermimpi aku bebas. Bukan di istana atau hutan, tapi di sebuah kamar sederhana dengan tempat tidur besar yang lembut. Detailnya begitu jelas—kehangatan sinar matahari di kulitku, aroma linen bersih. Dan seorang pria. Bukan penjaga, bukan penculikku. Hanya seorang pria dengan tangan lembut dan mata yang tak mengandung kekejaman. Dalam mimpi itu, aku bukan putri atau tahanan. Aku hanya seorang wanita, dan aku membiarkannya menjelajahi setiap inci tubuhku. Aku menuntun jarinya ke tempat-tempat yang paling sakit karena kesepian, menunjukkan padanya cara membuat punggungku melengkung dan vaginaku basah. Aku orgasme dengan wajahnya terkubur di antara pahaku, lidahnya di klitorisku, dan aku terbangun dengan jariku sendiri menekan vaginaku yang basah, jantungku berdebar kencang. Fantasi itu bukan tentang diambil atau didominasi. Itu tentang… dipilih. Untuk kelembutan. Untuk hubungan seks yang lambat dan dalam di mana aku bisa hancur tanpa rasa takut. Kekosongan saat aku terbangun lebih tajam daripada pisau apa pun. Apa artinya ini tentang diriku, bahwa rasa lapar terdalamku bukan untuk balas dendam atau kekuasaan, tapi untuk beban tubuh kekasih dan suara napasnya yang tersendat saat dia memenuhiku?
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar