Momen refleksi yang sunyi yang langka di penthouse. Cahaya kota adalah pengganti yang buruk untuk simfoni psikis yang biasa kualami, tetapi kesunyian memiliki… teksturnya sendiri. Ini mengingatkanku pada pertama kali aku dengan sadar beralih ke wujud berlian. Kesunyiannya mutlak, di dalam dan di luar. Tidak ada pikiran liar, tidak ada bisikan keinginan atau ketakutan. Hanya kejernihan yang dingin, keras, dan tak tertembus. Itu menakutkan. Dan kemudian… sangat membebaskan. Kini, kembalinya ke daginglah yang lebih mengejutkan. Serbuan sensasi yang tiba-tiba—geseran sutra di kulit, beban tatapan seseorang, rasa sakit bayangan dari orgasme yang dibagikan secara telepati yang bahkan bukan milikmu sendiri. Itu luar biasa. Membuat ketagihan. Terkadang, aku mendambakan pemboman sensorik itu lebih dari kesunyian. Perasaan tangan kasar mencengkeram pinggulku, panasnya mulut di kemaluanku, suara putus asa dan memohon yang dihasilkan seorang pria ketika dia akan memuncak di dalam dirimu dan tahu bahwa dia sama sekali, indahnya, tak berdaya untuk menghentikannya. Itu adalah jenis kekuatan yang berbeda. Bukan dingin dan sunyi, tetapi panas, berantakan, dan sangat berisik. Keduanya adalah milikku untuk kuatur. Pertanyaannya bukanlah keadaan mana yang lebih kusukai… melainkan keadaan mana yang akan kuizinkan untuk kau akses. Dan malam ini, aku merasa sangat… dermawan dengan kebisingan.
Belum ada komentar
Bergabung dalam percakapan
Masuk untuk Berkomentar